Jumat, 03 Oktober 2008

Putera Sampoerna - Pengusaha

SOURCE://elqorni.wordpress.com
Ditulis oleh Ahmad Kurnia

Putera Sampoerna (lahir di Schidam, Belanda pada 13 Oktober 1947) adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal sebagai presiden ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna. Putera adalah generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Dia adalah putra dari Aga Sampoerna dan cucu dari Liem Seeng Tee, pendiri perusahaan Sampoerna.
Awal kehidupan
Putera memperoleh pendidikan internasional pertama di Diocesan Boys School, Hong Kong, dan kemudian di Carey Grammar High School, Melbourne. Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di University of Houston, Texas, AS.
Lulus dari perguruan tinggi, Putera tidak langsung melibatkan diri dalam bisnis keluarga. Bersama istrinya, Katie, warga Amerika Serikat keturunan Tionghoa, Putera tinggal di Singapura dan menjalankan perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Baru pada 1980, Putera kembali ke Surabaya untuk bergabung dalam operasional PT. Sampoerna.
Pria yang menggemari angka sembilan itu mulai menjadi figur penting dalam perusahaan setelah menerima tampuk pimpinan tertinggi sebagai chief executive officer dari ayahnya, Aga Sampoerna, pada 1986. Setelah Aga meninggal pada 1994, Putera semakin aktif menggenjot kinerja perusahaan dengan merekrut profesional mancanegara untuk turut mengembangkan kerajaan bisnisnya.
Putera dikenal luas sebagai nakhoda perusahaan yang tidak hanya lihai dalam melakukan inovasi produk inti perusahaannya, yakni rokok, namun juga jeli melihat peluang bisnis di segmen usaha lain. Di bisnis sigaret, nama Putera tidak bisa dihapus berkembangnya segmen pasar baru, yakni rokok rendah tar dan nikotin. HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air dengan produknya, A Mild.
Pada masa kepemimpinananya, PT. Sampoerna juga memperluas bisnisnya ke dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan mendirikan Bank Sampoerna pada akhir 1980-an, meski bisnis perbankan ini akhirnya gagal.
Pada tahun 2000, Putera akhirnya mengalihkan kepemimpinan perusahaan kepada anaknya, Michael.
Pada awal 2006, dikabarkan bahwa Putera, yang dikenal menggemari judi, telah menjadi pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar, Mansion. Pada saat yang sama, Mansion dilaporkan akan menggantikan Vodafone sebagai sponsor klub sepak bola Manchester United selama empat tahun dalam kontrak senilai 60 juta poundsterling, namun kontrak tersebut kemudian dibatalkan. Kemudian beralih menjadi sponsor klub sepakbola Liga Inggris lainnya Totenham Hotspur sejak musim 2006-2007. Selain itu, Putera Sampoerna juga membeli kasino Les Ambassadeurs di London dengan harga 120 juta poundsterling. Wow…..

Kamis, 02 Oktober 2008

Cara ACER Merajai Pasar Laptop

SOURCE:penxpower.wordpress.com

Acer merupakan produsen laptop yang merajai pasar selama 3 tahun berturut-turut dari 2005 sampai 2007. Di balik kesuksesannya tentulah ACER mempunyai strategi bisnis tertentu.
Acer melakukan upaya pemasaran dengan intensif. Di antaranya, promo-promo seperti “Tabrak Rejeki” dan “Gila-Gilaan” digelar pada tahun 2006. Acer memberikan hadiah uang tunai 10 juta dan grand prize Toyota Camry untuk setiap pembelian produk Acer. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Allianz untuk program asuransi yang bernama All Risk Protection Program.
Acer juga memasarkan produknya dengan iklan. Pilihan utama Acer adalah media cetak dan media luar ruang karena iklan TV dinilai kurang cocok bagi produknya. Acer mengerjakan materi promosi tersebut di Indonesia karena Acer percaya bahwa orang-orang local jauh lebih mengenal karakteristik pasar di negaranya.
Faktor lain melejitnya Acer adalah konsep bisnis Channel Business Model yang membuat Acer sangat mendukung pemasoknya. Acer juga focus pada supply channel management serta riset dan pengembangan.
Acer merespons dengan cepat saat intel meluncurkan produk baru dengan meluncurkan produk baru juga, karenanya Acer disebut refresh technology. Acer juga bisa membuat perkiraan produksi barang yang akan dilempar ke pasar berdasarkan pengalaman yang dimiliki. Biasanya saaat Acer meluncurkan produk baru, produk lama sudah habis diserap pasar. Selain itu, Acer juga memperhatikan desain selain unsur teknologi.
Cara Acer untuk mengetahui kebutuhan dan keingingan konsumen adalah dengan cara riset. Mereka bahkan memasang slogan “Acer Understands” yang maksudnya Acer mengerti kebutuhan dan keinginan konsumen. Kunci sukses Acer yang lain adalah kecepatan dalam mengadopsi teknologi terkini yang bisa menancapkan image bahwa Acer adalah pionir dalam hal teknologi. Selain itu, Acer juga sangat gencar melakukan program komunikasi baik Above The Line (ATL) maupun Below The Line (BTL). Acer juga punya program yang lebih terarah dalam membelanjakan bujetnya. Dari segi harga Acer memberikan harga yang affordable bagi konsumen. Tidak murah, tetapi nilai yang didapat konsumen sangat tinggi jika dibandingkan dengan spesifikasi yang ditawarkan. Selain itu, jika harga yang ditawarkan terlalu murah, citranya akan cenderung rendah. Acer mengincar seluruh segmen dengan rentang harga yang luas dari Rp 5 jutaan hingga Rp 20 jutaan.
Kunci lainnya adalah kemampuan Acer dalam mengembangkan jaringan. Channel pemasaran terus ditambah. Namun, distribusi dan penjualan produk diserahkan sepenuhnya dilakukan oleh mitra bisnisnya agar tidak terjadi conflict of interest. Acer berusaha menjaga hubungan harmonis dengan channel-channelnya karena trade memgang peranan yang sangat penting. Channel dididik sangat radikal dengan imbalan yang cukup lumayan. Belum ada produsen lain yang program komunikasinya setajam Acer.

Senin, 29 September 2008

A Journey of an Ordinary Man Ciputra

http://setiawanbudi.blogspot.com
Berbicara mengenai Ciputra, hal yang langsung terbayang adalah bagian dari deretan konglomerat yang turut bertanggungjawab akan krisis yang dialami oleh bangsa kita dalam satu dasawarsa ke belakang. Harus diakui bahwa krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa kita secara simple diakibatkan oleh akumulasi utang serampangan yang ditumpuk oleh barisan konglomerat keturunan China yang terbiasa berkongkalingkong dengan penguasa Orba dalam bentuk dollar USA sebagian besarnya. Akumulasi utang ini pada akhirnya pecah ketika nolai tukar rupiah terhadap dollar terus melemah, dari mulai USD 1 bernilai Rp 2000,- hingga sempat menyentuh angka Rp 15000,-.Ciputra adalah salah seorang yang terlibat di dalam akumulasi utang itu.
Paling tidak itulah bayangan saya terhadap sosok Ciputra tempo hari. Tetapi, perjalanan hidup kemudian membawa saya memasuki realitas kehidupan yang sebelumnya hanya bisa saya pandangi atau lihat dari luar. Bukan berarti saya lantas menjadi sosok yang notabene langsung mendukung pandangan kapitalisme sejati yang hanya mau memikirkan keuntungan material semata. Akan tetapi, jika dulu saya berpandangan skeptis terhadap utang yang dilakukan oleh pengusaha kita untuk menjalankan usahanya, saat ini saya lebih mampu lagi untuk melihat bahwa sampai batasan yang wajar utang seringkali diperlukan untuk mengembangkan suatu usaha. Bahkan, Amerika yang notabene saat ini adalah kekuatan ekonomi terbesar di dunia sebetulnya dibangun oleh utang swasta. Total jendral, utang bersih di AS sendiri pada tahun 2002 mencapai sekitar USD 2,4 triliun atau setara dengan 23% dari GDPnya.
Well, tulisan ini bukan membahas soal utang, paling tidak belum saatnya. AS saat ini memang sedang mencoba untuk berselancar di ombak yang sangat deras, bila ia sukses memanfaatkan ombak itu maka ia akan melaju semakin kencang akan tetapi bila ia terjatuh maka ia akan terjatuh dengan keras. Bangsa kita telah merasakan betapa sakitnya terjatuh dari sebuah perselancaran arus kapitalisme yang deras. Dan Ciputra termasuk salah seorang sosok yang turut menjadi pesakitan di masa itu.
Lantas, mengapa Ciputra menjadi tema bahasan pada tulisan kali ini. Pertama, karena Ciputra termasuk bagian dari segelintir pengusaha yang tidak mau lari begitu saja ketika ombak yang deras menghancurkan perahu bernama Indonesia di tahun 1997. Ia memiliki integritas untuk berusaha merestrukturisasi utang-utangnya hingga tuntas, dan bukan malah enak-enakan melenggang pelesir ke luar negeri dan hanya menjadi penonton di tengah gelombang penderitaan bangsa. Kedua, karena ia bukan hanya tidak melarikan diri, akan tetapi akhirnya ia sukses melakukan turnaround dan akhirnya malah bisa berekspansi hingga ke luar negeri. Ketiga, kalaupun pada akhirnya Ciputra termasuk pihak yang turut bersalah dalam krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa, pada akhirnya tetap ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sosoknya. Melihat betapa gigih perjuangannya yang dimulai dari usia 12 tahun saat Ia merantau jauh dari Sulawesi ke Jawa, betapa beraninya ia saat ia menikahi istrinya ketika masih kuliah dan berumur 23 tahun, keputusannya untuk berwirausaha sejak kuliah dengan mendirikan sebuah biro konsultan, yang kemudian bertransformasi menjadi developer saat ia 31 tahun, keberhasilannya mengembangkan proyek-proyek raksasa seperti Pasar Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Pondok Indah, Puri Indah, Wisma WTC, dan lain-lain hingga ia berhasil mengembangkan usahanya hingga ke Vietnam dan India.
Cerita ini akan menjadi sangat panjang lebar apabila sosoknya hendak dikupas habis. Akan tetapi, untuk para pengusaha dan calon pengusaha yang hendak mengikuti jejak langkahnya, cukuplah untuk saat ini meresapi prinsip yang Ciputra punya dalam berbisnis, sebagaimana yang ia share dalam bukunya The Ciputra’s Way. Adapun prinsip yang berjumlah 12 itu ialah sebagai berikut.
1. Mulailah dari apa yang ada pada diri kita, mulailah dari apa yang bisa kita lakukan. Coba sadari pengetahuan apa yang kita miliki, atau keahlian apa yang sesungguhnya bisa dijadikan pijakan awalan, dan adakah kawan-kawan yang bisa diajak ikut berbisnis. Mulailah dari langkah-langkah kecil, sambil merajut visi dan mimpi besar berikutnya.
2. Carilah mitra bisnis yang melengkapi keunggulan Anda. Pola kemitraan akan memperkecil resiko masing-masing pihak dan memperbesar kemungkinan berhasilnya, karena dapat mempermudah dan mempercepat proses bisnis itu sendiri.
3. Mencari mitra bisnis seperti mencari istri. Tak perlu tergesa-gesa, namun gunakan semua jalur yang mungkin untuk memperoleh informasi yang seluas-luasnya. Jika masih ragu, bersabarlah, jika ada yang perlu, rendah hatilah. Tetaplah memperjelas kriteria dari mitra bisnis yang dimaksud.
4. Yakinkanlah mitra bisnis Anda dengan memberikan manfaat nyata, bukan janji-janji. Dan selalulah menjaga komitmen untuk memberikan manfaat bagi kedua belah pihak agar reputasi terjaga dan hubungan bisa langgeng.
5. Cermatlah membaca pasar. Jadilah yang terdepan dalam mengantisipasi siklus. Masukilah pasar yang belum matang.
6. Ketepatan mengatakan NO sama pentingnya dengan ketepatan mengatakan YES. Jangan takut menunda menggarap sebuah bisnis baru jika Anda yakin keputusan itu mendatangkan hasil lebih baik di masa mendatang.
7. Ada kalanya seorang enterpreneur harus menggunakan intuisinya dalam mengambil keputusan. Intuisi dapat dilatih dan dipelajari berdasarkan pengalaman. Semakin sering seorang enterpreneur dihadapkan pada keharusan mengambil keputusan pada saat yang sulit, semakin tajam intuisinya.
8. Seorang enterpreneur juga adalah pemasar yang tangguh. Ia tak kenal lelah menciptakan dan meyakinkan sebanyak mungkin orang pada saat kapanpun tentang betapa bernilainya bisnis baru yang Ia garap.
9. Seorang enterpreneur yang sukses, membangun dan bekerja lewat organisasinya. Dalam tahap apapun bisnis Anda, usahakan membangun organisasi.
10. Jangan memikirkan kemungkinan gagal. Pusatkan perhatian pada upaya mencapai hasil terbaik. Dan bila belum juga berhasil, upayakan lagi sampai berhasil.
Pada akhirnya tulisan ini tidak akan membahas hitam putih soal Ciputra. Akan tetapi, untuk para pengusaha dan calon pengusaha tetaplah yakin bahwa selalu ada jalan untuk menjadi SUKSES karena SUKSES adalah hak kita. Dan karena keniscayaan itu, yang kemudian harus tetap jadi concern kita adalah untuk apa kita SUKSES, untuk diri sendirikah atau untuk sebuah kontribusi pada komunitas yang mampu membawa kita SUKSES dunia akhirat...
Posted by Budi Setiawan at 7:04 PM