Oleh:M. T. Assyaukani
SOURCE://www.ghabo.com
“Apa pun makanannya, Teh Botol minumannya…” Pesan iklan ini tidak berlebihan. sebab memang begitulah faktanya. Teh botol yang dibangun oleh almarhum Sosrodjojo pada tahun 1940-an di Slawi, Jateng, telah menjadi raja minuman dalam botol di Indonesia. Apa resep di balik kesuksesan ini?
Minum teh dalam botol, apalagi yang dingin, menabrak kelaziman atau di luar kebiasaan. Umumnya, orang minum teh diseduh dalam cangkir atau gelas, Air yang dituangkannya pun panas. Tetapi Sosrodjojo “melawan” kebiasaan itu. Dan kini, banyak orang suka minum teh dalam kemasan yang dingin.
Teh Botol (meski kini sudah hadir dalam kemasan kotak) telah menggeser minuman-minuman dalam botol yang lebih dulu terkenal seperti Coca Cola, Pepsi dan sejenis.
Merek Sosro merupakan singkatan dari nama keluarga Sosrodjojo yang merintis usaha Teh Wangi Melati pada tahun 1940 di Slawi, Teh Wangi Melati yang diperkenalkan pertama kali itu bermerek Cap Botol
Pada 1965, teh Cap Botol mulai diperkenalkan di Jakarta. Waktu itu, teknik mempromosikan te Cap Botol dengan strategi Promosi Cicip Rasa, yakni secara rutin beberapa staf yang dikoordinir oleh Soetjipto Sosrodjojo mendatangi sejumlah tempat keramaian . Mereka menggunakan mobil dan alat-alat propaganda seperti memutar lagu-lagu untuk menarik perhatian dan mengumpulkan penonton.
Penonton dibagikan secara cuma-cuma contoh merek Cap Botol (sekarang disebut teknik Sampling). Di tempat tersebut, beberapa staf mendemokan cara menyeduh Cap Botol yang untuk kemudian dibagikan kepada penonton.
Teknik merebus teh langsung di tempat keramaian ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga menimbulkan kendala. Penonton yang sudah berkumpul menjadi tidak sabar dan banyak yang meninggalkan arena demo sebelum sempat mencicipi seduhan teh tersebut.
Untuk menanggulangi kendala tersebut, teh diseduh terlebih dahulu di kantor dan dimasukkan ke dalam panci untuk kemudian dibawa menuju tempat keramaian. Namun ternyata teknik yang kedua ini juga masih mengalami kendala, yaitu air teh yang dibawa dalam panci banyak yang tertumpah sewaktu dalam perjalanan karena kondisi kendaraan dan jalan-jalan di Jakarta masih belum baik.
Akhirnya ditempuh cara lain, yaitu air teh yang telah diseduh dikantor kemudian ditaruh didalam botol-botol bekas limun/kecap yang telah dibersihkan terlebih dahulu untuk selanjutnya dibawa ketempat tempat kegiatan promosi Cicip Rasa berlangsung. Ternyata cara yang ketiga ini berjalan baik dan terus di pakai selama bertahun tahun.
Setelah bertahun-tahun dilakukan teknik promosi Cicip Rasa, akhirnya pada tahun 1969 muncul gagasan menjual air teh siap minum dalam kemasan botol dengan merek Teh Botol Sosro. Merek tersebut dipakai untuk mendompleng merek Teh seduh Cap Botol yang sudah lebih dulu populer dan mengambil bagian dari nama belakang keluarga Sosrodjojo.
Dan pada tahun 1974, didirikan PT. Sinar Sosro di kawasan Ujung Menteng dan desain botol Teh Botol Sosro berubah dan bertahan sampai sekarang. Pabrik tersebut, merupakan pabrik teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan pertama di Dunia.
Dari sebuah pabrik kecil di Slawi, PT Sinar Sosro kini memiliki sejumlah perkebunan the di Garut seluas 455 hektar, Tasikmalaya 732 hektar, dan Cianjur 400 hektar.
Sosro memiliki beberapa pabrik yang tersebar dipulau Jawa dan Sumatera, yaitu : di Cakung (Jakarta), Pandeglang (Jawa Barat), Ungaran (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur) dan Medan.
Pabrik peracikan Teh Wangi Melati di Slawi, Pabrik Kemasan Tetra, Kaleng dan Air Mineral berada di Bekasi. Pabrik yang masih dalam tahap perencanaan dan pembangunan berada di Cibitung, dan Gianyar (Bali)
Kamis, 30 Oktober 2008
Rabu, 29 Oktober 2008
SOURCE: http://www.freewebs.com
Ken Sudarto : Legenda Periklanan Indonesia
Dia tokoh periklanan Indonesia. Bahkan pantas digelari legenda hidup periklanan Indonesia. Ken, panggilan akrab Kenneth Tjahjady Sudarto, salah seorang perintis periklanan Indonesia. Pendiri Matari Advertising, ini memulai usahanya dari garasi di kawasan Cideng sampai memiliki gedung megah Puri Matari di segitiga emas Kuningan.
Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005.
Ken meninggal setelah setahun lebih berjuang melawan penyakit lymphoma (kanker kelenjar getah bening). Dia meninggalkan seorang isteri, Sylvie Febryanti Sudarto, dan tiga anak Michael Dirgo Sudarto, Glenn Ario Sudarto dan Cynthia Anggraini Sudarto, serta tiga orang cucu Allegra Divya, Alexa Kirana, dan Tristan Ario.
Jenazah Presiden Komisaris Kelompok Matari Advertising itu tiba di Bandara Soekarno Hatta dari Singapura sekitar pukul 20.00, Sabtu 5 November 2005. Selanjutnya dibawa ke Puri Matari di kawasan Kuningan. Di sana para karyawan dan staf memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, iring-iringan mobil jenazah menuju ke rumah almarhum di Jl Kemang Timur IV. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat.
Tampaknya, sampai ajal menjemputnya dia terus berjuang. Sebelum meninggal, dari CCU Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Ken mengirim SMS kepada stafnya berbunyi: ”Hidup adalah bagaikan bendera perang. Kadang-kadang berkibar megah, menantang. Kadang-kadang kotor, robek-robek, dan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi harus tetap dipertahankan dengan gagah berani, sampai ke tangan Tuhan”.
Perjuangannya dalam dunia periklanan dimulai dari garasi di kawasan Cideng dengan dua orang pegawai. Sebelum mendirikan Matari (Agency Representative Matari Advertising, 1970-1971), Ken meniti karir sebagai Manager US Summit Corporation (1964-1968), Wiraswasta (1968-1969) dan Staf Lokal Ubersee Handel AG (1969-1970). Kemudian sejak 1971 dia menjabat Presiden Direktur Matari Inc, perusahaan periklanan yang semula bekerjasama dengan Mark Lean Advertising. Setelah dua tahun kemudian memisahkan diri.
Kemudian Matari sepenuhnya menggunakan tenaga ahli Indonesia, karena menganggap merekalah yang lebih mengenal negeri ini. Modalnya juga domestik.
Sempat mengalami masa sulit tahun 1975-1976, lantaran dia mencoba berspekulasi di luar bidang periklanan. Lalu mendapat bantuan dari klien lama. PT Astra dan Konimex dengan membayar di muka, serta harian Sinar Harapan dan Surabaya Post bersedia menunda penagihan. Ditambah lagi suntikan modal dari Paul Karmadi, temannya sejak kecil, dengan membeli 30% dari seluruh saham.
Perusahaan ini kemudian berkembang pesat., menjadi biro iklan paling lengkap di Indonesia. Matari Inc ini memiliki studio foto, amphi-theater, studio rekaman modern, perpustakaan, dan fasilitas komputer.
Juga memiliki kantor di gedung sendiri, Puri Matahari berlantai empat, di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Serta mempekerjakan sekitar 200 karyawan.
Biro iklan ini setidaknya melayani sekitar 30-an klien setiap tahun. Di antaranya Toyota, Mitsubishi, Honda, Daihatsu, SIA, Cathay, Garuda, Fuji, Kodak, National, Sony, ITT, Unilever, BCA, dan lain-lain. Dari setiap klien, Matari menarik agency fee 15%sampai 20%.
Sulung dari lima bersaudara (Ken, Imelda, Berty, Liza dan Bambang), putera dari So Ping Hian (ayah) dan Setiawati K Sudarto (lo Bie Lan, Ibu) pedagang kelontong, ini lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942. Mengecap pendidikan SR, Jalan Sabang, Jakarta (1954), SMP Kanisius, Jakarta (1957) dan SMAK I, Jakarta (1960).
Sempat kuliah di FE UI, Jakarta, sampai tingkat IV, 1965. Kemudian belajar manajemen (Smaller Company Management Program) di Harvard Business School, AS (1982), Indonesian Senior Executive Program VI di Insead-Fountain- Bleau, Prancis (1981) dan Managing Strategic Changes di Imede-LPPM, Jakarta (1981).
Penggemar musik klasik dan pop serta olahraga jogging, renang, dan bulu tangkis, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005. Disemayamkan di rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat. Setelah dilakukan Misa Requiem, tiga hari berturut-turut, 6, 7 dan 8 November 2005, jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu 9 November 2005, pukul 09.30 Wib.
Panca Cita
Ketika banyak perusahaan belum menyadari arti penting dari suatu visi dan misi perusahaan, ia telah menciptakan Panca Cita Matari yang akan menjadi suluh penerang bagi perjalanan bisnisnya. Panca Cita ini diberlakukan pada saat Matari berusia sembilan tahun dan Ken Sudarto berusia 38 tahun.
Kelima cita yang menjadi pematok langkah Matari sarat dengan idealisme, profesionalisme, dan semangat kekeluargaan. Cita pertamanya: Berpartisipasi dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab. Pendiri Matari sangat menyadari sebagai perusahaan yang beroperasi di negara berkembang, perusahaan ikut bertanggung jawab dalam upaya perwujudan suatu masyarakat Indonesia yang sejahtera, kami akan secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan nasional, terutama dalam bidang periklanan.
Cita kedua: Mengabdi kepentingan masyarakat. Kegiatan Matari dalam bidang periklanan akan dilakukan secara kreatif, menciptakan karya yang bermutu, jujur, serasi dengan lingkungan, sehingga sungguh-sungguh mencerminkan pengabdian kepada kepentingan masyarakat.
Cita ketiga: Menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan. Dari awal Matari dirancang sebagai suatu keluarga besar yang dipadukan dalam satu organisasi bisnis. Di mana perusahaan akan senantiasa memperjuangkan terciptanya suasana kerja yang sesuai dan menyenangkan menuju peningkatan taraf ketrampilan dan kehidupan.
Cita keempat: Menghasilkan pendapatan yang dapat membiayai pengembangan dan kelangsungan hidup perusahaan. Berikutnya demi kelangsungan hidupnya perusahaan, menjadi penting untuk terus menerus mengusahakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan laba untuk para pemegang saham, serta melakukan investasi untuk perluasan usaha.
Cita kelima: Memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Untuk menjamin adanya kegairahan dan ketentraman kerja, perusahaan akan memberikan imbalan yang wajar serta kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuan kami masing-masing.
Kelima cita ini telah menjadi pembimbing tindak dari Matari Advertising dalam setiap langkahnya. "Panduan semacam ini memungkinkan Matari memiliki nilai-nilai ideologis yang akan terus membimbingnya ke masa depan," tutur Aswan Soendojo, yang menerima tongkat estafet untuk melanjutkan kepemimpinan di Matari.
Perjalanan Matari Advertising sesungguhnya mencerminkan perjalanan industri periklanan Indonesia. Banyak terobosan penting di industri periklanan muncul dari kiprah Matari, khusus lagi dari tangan Ken Sudarto. Ketika ia memutuskan untuk lengser dari Matari, bulan Maret lalu, maka menjadi penting bagi kami untuk menuliskan suatu commemorative report mengenai kiprahnya di industri periklanan. Tanpa sentuhan tangannya, majalah yang kini Anda pegang mungkin tak akan pernah lahir ke dunia. (source : www.tokohindonesia.com)
Ken Sudarto : Legenda Periklanan Indonesia
Dia tokoh periklanan Indonesia. Bahkan pantas digelari legenda hidup periklanan Indonesia. Ken, panggilan akrab Kenneth Tjahjady Sudarto, salah seorang perintis periklanan Indonesia. Pendiri Matari Advertising, ini memulai usahanya dari garasi di kawasan Cideng sampai memiliki gedung megah Puri Matari di segitiga emas Kuningan.
Pria kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005.
Ken meninggal setelah setahun lebih berjuang melawan penyakit lymphoma (kanker kelenjar getah bening). Dia meninggalkan seorang isteri, Sylvie Febryanti Sudarto, dan tiga anak Michael Dirgo Sudarto, Glenn Ario Sudarto dan Cynthia Anggraini Sudarto, serta tiga orang cucu Allegra Divya, Alexa Kirana, dan Tristan Ario.
Jenazah Presiden Komisaris Kelompok Matari Advertising itu tiba di Bandara Soekarno Hatta dari Singapura sekitar pukul 20.00, Sabtu 5 November 2005. Selanjutnya dibawa ke Puri Matari di kawasan Kuningan. Di sana para karyawan dan staf memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, iring-iringan mobil jenazah menuju ke rumah almarhum di Jl Kemang Timur IV. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat.
Tampaknya, sampai ajal menjemputnya dia terus berjuang. Sebelum meninggal, dari CCU Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Ken mengirim SMS kepada stafnya berbunyi: ”Hidup adalah bagaikan bendera perang. Kadang-kadang berkibar megah, menantang. Kadang-kadang kotor, robek-robek, dan hampir jatuh ke tangan musuh. Tapi harus tetap dipertahankan dengan gagah berani, sampai ke tangan Tuhan”.
Perjuangannya dalam dunia periklanan dimulai dari garasi di kawasan Cideng dengan dua orang pegawai. Sebelum mendirikan Matari (Agency Representative Matari Advertising, 1970-1971), Ken meniti karir sebagai Manager US Summit Corporation (1964-1968), Wiraswasta (1968-1969) dan Staf Lokal Ubersee Handel AG (1969-1970). Kemudian sejak 1971 dia menjabat Presiden Direktur Matari Inc, perusahaan periklanan yang semula bekerjasama dengan Mark Lean Advertising. Setelah dua tahun kemudian memisahkan diri.
Kemudian Matari sepenuhnya menggunakan tenaga ahli Indonesia, karena menganggap merekalah yang lebih mengenal negeri ini. Modalnya juga domestik.
Sempat mengalami masa sulit tahun 1975-1976, lantaran dia mencoba berspekulasi di luar bidang periklanan. Lalu mendapat bantuan dari klien lama. PT Astra dan Konimex dengan membayar di muka, serta harian Sinar Harapan dan Surabaya Post bersedia menunda penagihan. Ditambah lagi suntikan modal dari Paul Karmadi, temannya sejak kecil, dengan membeli 30% dari seluruh saham.
Perusahaan ini kemudian berkembang pesat., menjadi biro iklan paling lengkap di Indonesia. Matari Inc ini memiliki studio foto, amphi-theater, studio rekaman modern, perpustakaan, dan fasilitas komputer.
Juga memiliki kantor di gedung sendiri, Puri Matahari berlantai empat, di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Serta mempekerjakan sekitar 200 karyawan.
Biro iklan ini setidaknya melayani sekitar 30-an klien setiap tahun. Di antaranya Toyota, Mitsubishi, Honda, Daihatsu, SIA, Cathay, Garuda, Fuji, Kodak, National, Sony, ITT, Unilever, BCA, dan lain-lain. Dari setiap klien, Matari menarik agency fee 15%sampai 20%.
Sulung dari lima bersaudara (Ken, Imelda, Berty, Liza dan Bambang), putera dari So Ping Hian (ayah) dan Setiawati K Sudarto (lo Bie Lan, Ibu) pedagang kelontong, ini lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 16 Maret 1942. Mengecap pendidikan SR, Jalan Sabang, Jakarta (1954), SMP Kanisius, Jakarta (1957) dan SMAK I, Jakarta (1960).
Sempat kuliah di FE UI, Jakarta, sampai tingkat IV, 1965. Kemudian belajar manajemen (Smaller Company Management Program) di Harvard Business School, AS (1982), Indonesian Senior Executive Program VI di Insead-Fountain- Bleau, Prancis (1981) dan Managing Strategic Changes di Imede-LPPM, Jakarta (1981).
Penggemar musik klasik dan pop serta olahraga jogging, renang, dan bulu tangkis, ini meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, pukul 06.06, 5 November 2005. Disemayamkan di rumah duka di RSPAD Gatot Subroto, Jl Abdul Rahman Saleh No 24, Kwini, Senen, Jakarta Pusat. Setelah dilakukan Misa Requiem, tiga hari berturut-turut, 6, 7 dan 8 November 2005, jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu 9 November 2005, pukul 09.30 Wib.
Panca Cita
Ketika banyak perusahaan belum menyadari arti penting dari suatu visi dan misi perusahaan, ia telah menciptakan Panca Cita Matari yang akan menjadi suluh penerang bagi perjalanan bisnisnya. Panca Cita ini diberlakukan pada saat Matari berusia sembilan tahun dan Ken Sudarto berusia 38 tahun.
Kelima cita yang menjadi pematok langkah Matari sarat dengan idealisme, profesionalisme, dan semangat kekeluargaan. Cita pertamanya: Berpartisipasi dalam pembangunan nasional dengan penuh rasa tanggung jawab. Pendiri Matari sangat menyadari sebagai perusahaan yang beroperasi di negara berkembang, perusahaan ikut bertanggung jawab dalam upaya perwujudan suatu masyarakat Indonesia yang sejahtera, kami akan secara aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan nasional, terutama dalam bidang periklanan.
Cita kedua: Mengabdi kepentingan masyarakat. Kegiatan Matari dalam bidang periklanan akan dilakukan secara kreatif, menciptakan karya yang bermutu, jujur, serasi dengan lingkungan, sehingga sungguh-sungguh mencerminkan pengabdian kepada kepentingan masyarakat.
Cita ketiga: Menciptakan suasana kerja yang dilandasi rasa kekeluargaan. Dari awal Matari dirancang sebagai suatu keluarga besar yang dipadukan dalam satu organisasi bisnis. Di mana perusahaan akan senantiasa memperjuangkan terciptanya suasana kerja yang sesuai dan menyenangkan menuju peningkatan taraf ketrampilan dan kehidupan.
Cita keempat: Menghasilkan pendapatan yang dapat membiayai pengembangan dan kelangsungan hidup perusahaan. Berikutnya demi kelangsungan hidupnya perusahaan, menjadi penting untuk terus menerus mengusahakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan tercapainya pendapatan yang mampu memenuhi pembiayaan kegiatan bisnis, menyediakan laba untuk para pemegang saham, serta melakukan investasi untuk perluasan usaha.
Cita kelima: Memberikan kesempatan kepada setiap warganya untuk maju dan berkembang. Untuk menjamin adanya kegairahan dan ketentraman kerja, perusahaan akan memberikan imbalan yang wajar serta kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang sesuai dengan kemampuan kami masing-masing.
Kelima cita ini telah menjadi pembimbing tindak dari Matari Advertising dalam setiap langkahnya. "Panduan semacam ini memungkinkan Matari memiliki nilai-nilai ideologis yang akan terus membimbingnya ke masa depan," tutur Aswan Soendojo, yang menerima tongkat estafet untuk melanjutkan kepemimpinan di Matari.
Perjalanan Matari Advertising sesungguhnya mencerminkan perjalanan industri periklanan Indonesia. Banyak terobosan penting di industri periklanan muncul dari kiprah Matari, khusus lagi dari tangan Ken Sudarto. Ketika ia memutuskan untuk lengser dari Matari, bulan Maret lalu, maka menjadi penting bagi kami untuk menuliskan suatu commemorative report mengenai kiprahnya di industri periklanan. Tanpa sentuhan tangannya, majalah yang kini Anda pegang mungkin tak akan pernah lahir ke dunia. (source : www.tokohindonesia.com)
Senin, 27 Oktober 2008
Enron Memberi tenaga ke dalam dunia energi
SOURCE://kisahsuksesbisnis.blogspot.com
Enron merupakan kekuatan baru dalam industri energi. Hingga baru-baru ini, perusahaan listrik Amerika serikat menikmati lingkungan yang sangat dipenuhi oleh aturan dan stabil. Enron, yang berpusat di Houston, seperti perusahaan lain yang mengoperasikan saluran pipa antarnegara bagian, dipaksa untuk mengikuti peraturan pemerintah yang kompleks dalam pembelian dan penjualan gas alam. Walau peraturan menyederhanakan proses perencanaan perusahaan dalam banyak cara, hal tersebut juga membuat Enron tidak dapt menesuakan harganya, tanpa memandang penawaran dan permintaan yang sebenarnya.
Ketidakfleksibelan itu menjadi beban ketika di pertengahan tahun 1980, harga minyak jatuh sehingga menjadi lebih rendah dari harga gas. Banyak perusahaan pemakai bahan bakar melihat suatu kesempatan untuk menurunkan biaya mereka dengan mengganti bahan bakar untuk pabrik pembangkit tenaga mereka dari gas ke minyak, yang tentu saja menciptakan dua macam masalah bagi perusahaan saluran pipa. Pertama, Enron teikat dengan kontrak bertahun-tahun yang memaksanya untuk membeli gas dari produsen gas dngan harga tertentu. Kedua, perusahaan tidak dapt menyimpang dari peraturan harga federal, sehingga ia tidak dapat menurunkan harga untuk mempertahankan konsum pemakainya.
CEO Kenneth Lay dengan segera menyadari bahwa industri ini sedang menuju kesulitan. Dia berusaha, walau tanpa hasil, membujuk pembuat aturan di pemerintahan untuk mengubah peraturan mereka. Pada akirnya, untuk menghindari kehancuran keuangan< Enron dan banyak perusahaan saluran pipa lainnya mengabaikan kontrak pembelian mereka, yang mengarah pada perang hukum selama bertahun-tahun. Sementara itu, pembuat aturan pada akhirnya mengubah peraturan. Sekarang perusahaan saluran pipa bebas untuk membeli dan menjual pasokan gas di pasar.
Di dalam deregulasi, manajer Enron melihat kesempatan ebsar sementara kompetitor melihat adnaya situasi yang berbahaya dan belum dipetakan. Hingga saat itu, tidak ada seorang pun yang mempunyai pikiran untuk memperjualbelikan gas dan listrik sperti layaknya komoditas lain, misalnya, daging babi. Akan tetapi Lay dan timnya tahu bahwa perusahan pemakai merasa terganggu dengan fluktuasi harga gas yang tidak biasa. Sehingga mereka menyamakan penawaran mereka hingg manyeimbangkan setiap persyarakatn spesifik perusahan pemakai untuk pasokan dan harga gas. Apakah merusahaan memakai tertarik dengan harga yang tetap selama suatu periode tertentu atau memerlukan pasokan gas yang tideak dapat diganggu selama eriode puncak, Enron siap untuk membantu – dengan ongkos tertentu.
Deregulasi gas hanya merupakan suatu permulaan. Dalam waktu beberapa tahun industri tenaga listrik Amerika Serikat juga mengalami deregulasi. Sekali lagi manajemen Enron melihat potensi untuk aktivitas baru yang menguntungkan. Berdasarkan pengalaman dalam memperjualbelikan gas alam, Enron mampu mengakali kompetitornya dengan membaut tawaran yang sangat canggih untuk memperjualbelikan tenaga listrik untuk jaringan pemasok dan kosumen. Posisi terdepan ini sendiri, mengizinkan perusahaan untuk memulai dan tetap memeprdagangkan pasokan tenaga dan volume 25 persen lebih tinggi dari kompetitornya.
Ketika perubahan peraturan mulai menyebar ke negara lain, Enron juga mulai untuk memperluas jangkauannya. Dari satu negara ke negara lainnya, Enron menjadi perusahaan perdagnagan energi terbesar di Eropa, yang menyebabkan manajemen mampu untuk memonitor persoaan-persoalan yang mempengarui harga energi di masa mendatang degnan sangat dekat, seperti pola cuaca regional. Perusahaan juga memasuki pasar India dengan membangun suatu pabrik pembangkit tenaga raksasa di Dabhol, di sebelah selatan Bombay. Manajer Enron menjadi sangat ahli sehingga dalam mengarahkan struktur hukum di India sehingga kontrak yang mereka rundingkan mengarahkan negara tersebut untuk emngubah hukumnya mengenai arbitrasi bisnis, pengendalian mata uang, dan asuransi.
Suatu dari usaha terbaru Enron adalah memperjualbelikan bandwidth berlebih di jaringan fiber optic yang menyambungkan hubungan internet. Perusahaan telekomunikasi secara tradisional hanya menawarkan kontrak jangka panjang dengan tarif tetap untuk hubungan jaringan semacam itu – jenis tawaran yang pada suatu waktu sudah terlalu biasa di dalam industri energi. Merasakan adanya kesempatan, Enron mengakuisisi perusahaan perangkat lunak khusus untuk membantu mengembangkan suatu sistem untuk mengubah kelebihan bandwith hanya dengan waktu tunggu selama lima belas menit. Perusahaan kemudian bekerja sama dengan Sun Microsystems untuk menciptakan jaringan distribusi raksasa untuk bandwidth fiber-optic. Sekarang Enron memperjualbelikan bandwidth, energi, produk pulp dan kertas, batubara, dan plastik.
Enron merupakan kekuatan baru dalam industri energi. Hingga baru-baru ini, perusahaan listrik Amerika serikat menikmati lingkungan yang sangat dipenuhi oleh aturan dan stabil. Enron, yang berpusat di Houston, seperti perusahaan lain yang mengoperasikan saluran pipa antarnegara bagian, dipaksa untuk mengikuti peraturan pemerintah yang kompleks dalam pembelian dan penjualan gas alam. Walau peraturan menyederhanakan proses perencanaan perusahaan dalam banyak cara, hal tersebut juga membuat Enron tidak dapt menesuakan harganya, tanpa memandang penawaran dan permintaan yang sebenarnya.
Ketidakfleksibelan itu menjadi beban ketika di pertengahan tahun 1980, harga minyak jatuh sehingga menjadi lebih rendah dari harga gas. Banyak perusahaan pemakai bahan bakar melihat suatu kesempatan untuk menurunkan biaya mereka dengan mengganti bahan bakar untuk pabrik pembangkit tenaga mereka dari gas ke minyak, yang tentu saja menciptakan dua macam masalah bagi perusahaan saluran pipa. Pertama, Enron teikat dengan kontrak bertahun-tahun yang memaksanya untuk membeli gas dari produsen gas dngan harga tertentu. Kedua, perusahaan tidak dapt menyimpang dari peraturan harga federal, sehingga ia tidak dapat menurunkan harga untuk mempertahankan konsum pemakainya.
CEO Kenneth Lay dengan segera menyadari bahwa industri ini sedang menuju kesulitan. Dia berusaha, walau tanpa hasil, membujuk pembuat aturan di pemerintahan untuk mengubah peraturan mereka. Pada akirnya, untuk menghindari kehancuran keuangan< Enron dan banyak perusahaan saluran pipa lainnya mengabaikan kontrak pembelian mereka, yang mengarah pada perang hukum selama bertahun-tahun. Sementara itu, pembuat aturan pada akhirnya mengubah peraturan. Sekarang perusahaan saluran pipa bebas untuk membeli dan menjual pasokan gas di pasar.
Di dalam deregulasi, manajer Enron melihat kesempatan ebsar sementara kompetitor melihat adnaya situasi yang berbahaya dan belum dipetakan. Hingga saat itu, tidak ada seorang pun yang mempunyai pikiran untuk memperjualbelikan gas dan listrik sperti layaknya komoditas lain, misalnya, daging babi. Akan tetapi Lay dan timnya tahu bahwa perusahan pemakai merasa terganggu dengan fluktuasi harga gas yang tidak biasa. Sehingga mereka menyamakan penawaran mereka hingg manyeimbangkan setiap persyarakatn spesifik perusahan pemakai untuk pasokan dan harga gas. Apakah merusahaan memakai tertarik dengan harga yang tetap selama suatu periode tertentu atau memerlukan pasokan gas yang tideak dapat diganggu selama eriode puncak, Enron siap untuk membantu – dengan ongkos tertentu.
Deregulasi gas hanya merupakan suatu permulaan. Dalam waktu beberapa tahun industri tenaga listrik Amerika Serikat juga mengalami deregulasi. Sekali lagi manajemen Enron melihat potensi untuk aktivitas baru yang menguntungkan. Berdasarkan pengalaman dalam memperjualbelikan gas alam, Enron mampu mengakali kompetitornya dengan membaut tawaran yang sangat canggih untuk memperjualbelikan tenaga listrik untuk jaringan pemasok dan kosumen. Posisi terdepan ini sendiri, mengizinkan perusahaan untuk memulai dan tetap memeprdagangkan pasokan tenaga dan volume 25 persen lebih tinggi dari kompetitornya.
Ketika perubahan peraturan mulai menyebar ke negara lain, Enron juga mulai untuk memperluas jangkauannya. Dari satu negara ke negara lainnya, Enron menjadi perusahaan perdagnagan energi terbesar di Eropa, yang menyebabkan manajemen mampu untuk memonitor persoaan-persoalan yang mempengarui harga energi di masa mendatang degnan sangat dekat, seperti pola cuaca regional. Perusahaan juga memasuki pasar India dengan membangun suatu pabrik pembangkit tenaga raksasa di Dabhol, di sebelah selatan Bombay. Manajer Enron menjadi sangat ahli sehingga dalam mengarahkan struktur hukum di India sehingga kontrak yang mereka rundingkan mengarahkan negara tersebut untuk emngubah hukumnya mengenai arbitrasi bisnis, pengendalian mata uang, dan asuransi.
Suatu dari usaha terbaru Enron adalah memperjualbelikan bandwidth berlebih di jaringan fiber optic yang menyambungkan hubungan internet. Perusahaan telekomunikasi secara tradisional hanya menawarkan kontrak jangka panjang dengan tarif tetap untuk hubungan jaringan semacam itu – jenis tawaran yang pada suatu waktu sudah terlalu biasa di dalam industri energi. Merasakan adanya kesempatan, Enron mengakuisisi perusahaan perangkat lunak khusus untuk membantu mengembangkan suatu sistem untuk mengubah kelebihan bandwith hanya dengan waktu tunggu selama lima belas menit. Perusahaan kemudian bekerja sama dengan Sun Microsystems untuk menciptakan jaringan distribusi raksasa untuk bandwidth fiber-optic. Sekarang Enron memperjualbelikan bandwidth, energi, produk pulp dan kertas, batubara, dan plastik.
Langgan:
Entri (Atom)


.jpg)






